Sabtu, 02 Oktober 2010

Sifat Penduduk Ahli Surga dan Neraka


Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Sifat Penduduk Ahli Surga dan Neraka


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الجنَّةِ : كُلُّ ضَعِيْفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ ، أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأََهْلِ النَّارِ: كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ (صحيح البخاري)



Sabda Rasulullah saw:
“Ketahuilah, maukah kukabarkan pada kalian tentang (sebagian sifat) penduduk sorga?, semua yang lemah (tidak berdaya), dan rendah hati (berbuat seakan tak berdaya karena rendah hati), jika mereka berdoa dengan bersumpah atas nama Allah, maka akan langsung dikabulkan, maukah kukabarkan kalian tentang (sebagian sifat) penduduk neraka?, semua yang suka dengan pertengkaran, suka mengumpulkan harta namun sulit mengeluarkannya (tamak akan harta namun kikir), dan menyombongkan diri” (Shahih Bukhari)



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا ...

Limpahan puji kehadirat Allah Yang telah membuat sanubari kita mau mendatangi dan mengunjungi anugerah dan kelembutan Allah, maka sampailah kita ke tempat ini yang merupakan gerbang kemuliaan yang kekal, gerbang keluhuran dunia dan akhirah, gerbang kesucian dunia dan akhirah, tempat kita mencapai kemuliaan dan meninggalkan kehinaan untuk mencapai kemuliaan yang lebih tinggi lagi. Tangga-tangga kesucian dari Allah terbuka untukku dan kalian, maka jawablah tawaran terindah dari Yang Maha Indah, Yang memanggil hamba-hamba yang diciptanya untuk mencapai sesuatu yang indah di dunia dan akhirah, di dunia dengan keindahan yang fana dan di akhirah dengan keindahan yang kekal, dan semua yang menyambung dirinya dengan Sang Maha Indah akan diperindah hari-harinya, maka mohonlah kepada Yang Maha Indah semoga aku dan kalian diperindah dalam setiap siang dan malam kita, dunia dan akhirah kita, setiap nafas kita, setiap lintasan pemikiran kita, setiap waktu dan keadaan kita. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ( آل عمران :185 )

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan" ( Ali Imran: 185)

Semua yang hidup pasti akan merasakan kematian, dan kematian bagi para pendosa adalah akhir dari kebahagiaan dan awal dari kehinaan. Namun kematian bagi hamba yang rindu pada Sang Maha Indah adalah berakhirnya segala cobaan dan bermulanya keindahan yang kekal. Tiadalah kehidupan dunia itu kecuali panggung sandiwara, yang kaya belum tentu bahagia dan yang miskin belum tentu dalam keadaan susah bahkan bisa jadi dalam hari-harinya selalu bahagia, bisa saja orang yang kelihatannya mulia dan kaya barangkali dia dalam kesusahan dan sangat mendambakan kemerdekaan seperti orang-orang yang miskin. Orang-orang yang semakin tinggi jabatannya hakikatnya ia semakin terpenjara dan semakin terjajah oleh jabatannya. Sedangkan orang yang berada di pinggiran jalan, bebas kapan saja dia mau makan ia bisa makan, tetapi orang yang sudah bekerja sebagai pegawai untuk makan ada waktu yang ditentukan, semakin tinggi jabatannya maka semakin sulit gerakannya, semakin penuh alam pemikirannya maka semakin sulit ia merasakan keindahan dan semakin terganggu istirahatnya, sedangkan orang yang susah kapan pun mau tidur ia bisa tidur dan terserah kapan ia mau bangun, tetapi tidak demikian dengan orang yang semakin tinggi jabatannya di dunia. Maka kaya dan miskin bukanlah menjadi tolak ukur, kaya ataupun miskin, jabatan rendah ataupun tinggi kesemuanya itu selalu terjadi sepanjang bumi diciptakan, dari generasi ke generasi mereka hidup ada yang dalam kesusahan dan ada yang dalam kebahagiaan, ada yang dalam kehinaan dan ada yang dalam kemuliaan, ada yang dalam derajat tinggi dan ada yang dalam derajat rendah, ada yang dalam musibah dan ada yang dalam kenikmatan, kesemunya itu telah terjadi dan akan terus terjadi, aku dan kalian sedang melewatinya kemudian akan melupakannya dan terlepas darinya, dan berpindah ke generasi berikutnya, demikian yang terjadi mulai dari ayahanda kita sayyidina Adam As, dan yang kekal dan abadi adalah bakti kepada Allah, cinta Allah, rindu Allah, getaran jiwa yang bersambung dengan cahaya keluhuran yang kekal, Yang Maha Melihat setiap getaran perasaan hamba-Nya, Yang Maha Melihat setiap apa yang difikirkan oleh hamba-Nya, Yang Maha Melihat apa yang akan terjadi pada hamba-Nya, Yang Maha menghargai keinginan hamba yang ingin dekat kepada-Nya, Yang Maha menyambut hamba yang ingin kembali dari kehinaan kepada keluhuran atau menambah dari keluhuran menjadi lebih luhur lagi, Dialah Yang Maha Baik melebihi segala yang baik karena semua kebaikan adalah milik-Nya dan ciptaan-Nya, Dialah Yang Maha berjasa dari semua yang berjasa, Yang memberi kita jasad, Yang memberi kita kehidupan, Yang menghamparkan bumi untuk kita, yang menciptakan hewan, tumbuhan, bulan, matahari dan segala sesuatu yang ada di daratan dan di lautan tidak lain hanyalah untuk mendekat kita kepada-Nya, untuk mencapai cinta-Nya, untuk mencapai kasih sayang-Nya, setiap detikmu adalah lamaran cinta Allah agar engkau menerima cinta Rabbul 'alamin. Hadirin hadirat, siapa yang tidak kita inginkan cintanya ini?, siapa yang selalu kita tolak lamrannya ini?, setiap detik kita selalu ingin berpaling dari ibadah, ingin berpaling dari cinta Allah, ingin selalu mentalaq Allah!. Namun Allah subhanahu wata'ala Maha Baik dan tidak memutus hamba-Nya meskipun hambnya berkali-kali mengecewakan-Nya, namun perasaan yang paling lembut dari semua yang mempunyai perasaan lembut, Sang pencipta perasaan, Allah mempunyai perasaan Yang Maha Lembut. Allah mempunyai siksa yang pedih namun kelembutan-Nya melebihi kemurkaan-Nya. Oleh sebab itu selalu lah beristighfar atas nafas-nafas kita yang terlewat dalam dosa, karena orang yang selalu hidup dalam dosa bagaikan orang yang tenggelam dalam samudera kegelapan dan ditimpa gelombang kegelapan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala:

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ ( النور :40 )

"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tiada dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun" (QS. An Nur: 40)

Orang yang selalu dalam dosa itu bagaikan hidup dalam lautan di malam yang gelap gulita, dalam kegelapan itu ia berada di tengah samudera yang ditindih oleh gelombang yang gelap, di atas gelombang itu ada gelombang yang gelap lagi, dan diatasnya ditutup oleh awan yang gelap, kegelepan di atas kegelepan, sampai-sampai untuk melihat tangannya sendiri ia tidak bisa melihatnya, karena gelapnya keadaan hatinya. Apa maksudnya?, maksudnya ia tidak bisa melihat keindahan dan cahaya kenikmatan Allah dengan melihat tangannya, saat ia melihat tangannya seakan-sekan begitu saja adanya, padahal darimana tangan itu?, milyaran sel tulang, milyaran sel daging, milyaran sel darah, milyaran sel urat-urat, milyaran sel yang membutuhkan energi, membutuhkan mineral, membutuhkan kehidupan, ada pergantian dan ada kematian, kesemuanya ini siapa yang mengaturnya?!, siapa yang mengasuhnya?!. Jika tangan ini terangkat sekali gerakan hal itu tidak bisa kita bayar walaupun dengan segala alam semesta beserta isinya, kita tidak bisa membeli satu sel pun dalam tubuh ini kecuali dengan kehidupan yang dikehendaki Allah, jika Allah tidak menghendaki maka berhentilah seluruh fungsi sel tubuh kita. Kita lahir ke bumi bukan dengan kemauan kita, tidak ada manusia yang terlahir ke bumi karena dia sendiri yang memintanya, bayi yang terlahir tidak tau mengapa ia dilahirkan, hal ini menunjukkan bahwa kehidupan bukan dari keinginan manusia, tetapi dari keinginan sang pencipta. Orang yang terlahir tidak tau tentang kenikmatan mata, tetapi Allah telah memberinya sebelum ia memintanya, apakah seseorang tidak diberi kenikmatan berbicara sebelum ia memintanya?!, dan ia tidak tau betapa berharganya nikmat berbicara dan betapa rindu dan cemburunya orang yang tidak bisa berbicara jika melihat orang yang bisa berbicara. Betapa mahalnya orang yang bisa berdiri dan berjalan satu atau dua meter daripada orang yang tidak bisa berjalan. Saya dulu hampir 6 bulan di kursi roda, dokter mengatakan butuh waktu 8 tahun untuk bisa berdiri lagi karena over dosis di ruang ICU, salah satu rumah sakit di Jakarta terlalu banyak memberi obat asma yang diinfuskan ke tubuh sehingga membuat tulang tempurung di lutut menjadi melembek dan tidak keras maka tidak bisa diobati, butuh waktu 8 tahun baru bisa berdiri, jadi hanya di kursi roda, dan Alhamdulillah hanya sampai 6 bulan saja kemudian Allah izinkan kembali hamba ini untuk berdiri. Namun di saat saya dalam keadaan seperti itu, sungguh saya sangat cemburu melihat orang yang bisa berjalan. Ketika saya duduk di tempat tidur dan merasa haus dan ingin minum, gelas yang berisi air minum yang hanya 2 meter di depan saya, saya tidak bisa mengambilnya dan menunggu orang lain yang mengambilkannya, jika tidak ada orang yang datang membantu saya maka saya tidak bisa minum walaupun air minum itu tersedia, saat itu saya cemburu terhadap orang yang bisa berjalan dengan mudahnya, betapa berharganya nikmat berdiri itu. Namun ketika kita terkena musibah janganlah terburu-buru mencela Allah, karena barangkali musibah itu akan selalu membuat kita ingat akan kenikmatan Allah subhanahu wata'ala. Dan juga kenikmatan-kenikmatan yang lainnya seperti melihat, mendengar dan lainnya, bagaimana jika kita tidak bisa melihat?!, kita tidak akan tau perbedaan warna dan bentuk, apalagi dia yang sudah pernah melihat kemudian ia menjadi buta, bagaimana perasaannya, begitu cemburunya ia kepada yang bisa melihat, dimana dia terkadang terbentur disana sini, ditipu orang, ditertawakan orang dan lainnya, namun ingatlah bahwa setiap kesedihan itu diganjar oleh Sang Maha Baik dengan pahala dan keluhuran. Allah subhanahu wata'ala mengabarkan kepada sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bahwa Allah menurunkan malaikat untuk orang-orang yang buta seraya berfirman: "lihatlah hamba-Ku yang telah Kuambil kedua matanya, apakah ia bersabar?", maka malaikat itu menjawab: "hamba itu bersabar wahai Allah", maka Allah berfirman: "bangunkan surga untuknya". Maka terbaslah ia dari segala hisab, lepaslah ia dari segala dosa. Allah memerintahkan kepada malaikat untuk membangunkan surga baginya, mengapa?, karena ia bersabar dalam musibah yang ia hadapi. Hadirin hadirat, demikianlah keadaan orang-orang di dunia yang cemburu dengan orang yang sukses, orang-orang yang diberi keluasan harta oleh Allah dan lainnya, tetapi kelak di hari kiamat mereka yang sukses di dunia akan cemburu dengan orang-orang yang keadaannya susah semasa di dunia.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Hadits yang telah kita baca tadi, Rasulullah bertanya kepada para sahabat: "Maukah kalian kuberitahu tentang ciri-ciri penduduk surga seperti apa?", maksudnya bukan kesemuanya tetapi diantara sifat-sifatnya, maka Rasulullah melanjutkan: "Semua orang-orang yang lemah (dalam riwayat lain peminta-minta yang terusir dari pintu rumah)", terhadap orang yang dha'if (lemah) kita harus berhati-hati janganlah sampai kita menzhaliminya, karena jika dia berdoa kepada Allah maka Allah tidak akan menolaknya. Tetapi ada yang lebih berbahaya dari seorang dha'if dia adalah mutadha'if yaitu seorang yang mampu namun ia sangat merendahkan dirinya sehingga tidak terlihat kemampuan dan kekuatannya, tidak terlihat bahwa dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan, tidak terlihat kalau dia seorang yang mempunyai keluhuran dan kemuliaan, ia selalu merendahkan dirinya serendah rendahnya, orang yang seperti itu lebih berbahaya lagi maka hati-hati terhadap orang seperti itu jangan sampai kita menzhaliminya. Dulu saat saya belajar di Tarim Hadramaut, As Syaikh Fadhl Bafadhal Ar adalah ketua mufti ( ahli fatwa) di Tarim dan di saat itu ada 5 mufti. Mufti adalah ahli fatwa yang sudah memahami dan mendalami kesemua ilmu (hadits, fiqh, tafsir dan lainnya) dalam 4 madzhab. Ketika itu saya melihat para mufti membawa tumpukan buku sedangkan Syaikh Fadhl hanya bersenderan saja tetapi kesemua ilmu sudah menempel di kepala beliau, sehingga beliau hafal suatu pembahasan dalam kitab-kitab beserta halamannya. Dan saat pertama kali datang kami tidak mengenali beliau, hanya kami pernah melihat orang tua yang hadir di majleis ta'lim (tentunya tidak sebanyak ini) mungkin sekitar ratusan orang saja, di saat itu orang tua itu duduk di pojok belakang bersama orang yang biasa menuangkan air putih dan kopi, beliau mengenakan sorban dan pakaiannya biasa saja, maka kami mengira bahwa dia adalah orang yang menuangkan kopi juga, kami tidak begitu peduli dengan dia apalagi di saat itu kami datang terlambat, kami melihat beliau dan beliau pun melihat kami. Setelah selesai majelis maka semua orang berebutan untuk bersalaman dengan beliau, ternyata beliau adalah Syaikh Fadhl ketua mufti Tarim Hadramaut, subhanallah sungguh sangat merendahkan diri. Maka terhadap orang yang seperti ini berhati-hatilah karena jika mereka bersumpah dengan nama Allah maka akan Allah akan mengabulkan, berhati-hatilah terhadap para pengemis di jalanan barangkali kita akan cemburu dengan keadaannya kelak di hari kiamat, sekarang kita melihat ia kesusahan mungkin nanti kita akan cemburu dengan istananya kelak di surga, namun bukan berarti kita bertujuan untuk menjadi seperti mereka tetapi hal itu menjadi pelajaran bagi kita, karena Allah subhanahu wata'ala mengajarkan kita untuk berprasangka baik, maka berhati-hatilah kita terhadap orang yang lemah atau yang merendahkan diri, karena orang itu belum tentu lemah. Diriwayatkan ketika seorang 'arif billah yang mempunyai murid, sepulangnya dari pasar murid ini berkata kepada gurunya: "wahai guruku, berilah aku Ism Al A'dzham", maka gurunya berkata: "kenapa, apa yang engkau inginkan dengan Ism Al A'dzham?". Ism Al A'dzham ini jika seseorang berdoa dengannya maka akan dikabulkan doanya, maka murid itu berkata: " Tadi saya ke pasar, saya melihat ada seorang berkuda yang kaya raya dan membawa pedang, dan saya melihat ada seorang kakek yang sangat tua dan lemah membawa kayu bakar dari hutan untuk dijual di pasar, dan orang yang berkuda yang kaya raya itu merenggut kayu itu begitu saja, maka orang tua itu berkata: "mana upahnya?, saya mengumpulkan kayu-kayu ini dari hutan untuk dijual di pasar", tetapi lelaki berkuda itu justru menendangnya kemudian pergi, maka saya sangat marah terhadap lelaki itu, padahal dia mampu untuk membayar harga kayu itu, begitu jahatnya dia terhadap orang tua yang sudah bersusah payah mengumpulkan kayu dari hutan, maka jika aku memiliki Ism Al A'zham aku akan mendoakan orang itu agar celaka, sebab dia mampu untuk mencari kayu bakar dan mungkin hanya dalam beberapa jam saja dia akan mendapatkannya, tetapi orang tua itu mungkin butuh waktu satu hari untuk mendapatkan kayu bakar karena dia sudah lanjut usia dan sangat lemah". Maka gurunya berkata: "beritahu kepadaku tentang ciri-ciri orang tua itu?", maka murid itupun menjelaskan ciri-ciri kakek tua itu kepada gurunya. Hadirin hadirat, jika orang tua itu berdoa maka celakalah lelaki berkuda itu, namun dia adalah orang yang rendah diri yang berjiwa sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah kalau mau berdoa untuk kecelakan kuffar quraisy, sekali ia mengangkat tangannya maka akan terpendam seluruh kuffar quraisy kedalam bumi dalam sekejap. Nabiyullah Nuh As telah berdoa sebagaimana dalam firman Allah:

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا، إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا ( نوح: 26 )

" Nuh berkata: "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi" (QS. Nuh: 26 )

Maka Allah menjawab doa itu, Allah turunkan hujan sebanyak-banyaknya dan memerintahkan bumi untuk memuntahkan air sebanyak-banyaknya, dan tidak satu pun daratan yang tersisa di muka bumi, kecuali perahu nabiyullah Nuh As. Barangkali itu adalah akhir dari dinasti dinosaurus dan lainnya, karena di saat itu kesemuanya tenggelam oleh air dan yang tersisa hanyalah hewan-hewan yang dibawa oleh nabiyullah Nuh As.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Nabi Muhammad rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah pemimpin para nabi dan rasul, tetapi ketika beliau dilempari kotoran onta beliau hanya diam saja dan tidak bergeming dari sujudnya, sampai putrinya sayyidah Fathimah Az Zahra' berlari menangis dan berkata: "wahai para tetangga janganlah kalian berlaku demikian, tidaklah sepantasnya kalian melempari punggung ayahku dengan kotoran onta di saat beliau bersusujud di depan ka'bah", maka ketika itu Rasulullah bangkit dan menenangkan putrinya an berkata: "wahai putriku tenanglah, akan datang suatu waktu dimana ajaran ayahmu masuk ke semua rumah penduduk dunia ini, di barat dan timur", demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Melanjutkan hadits tadi, kemudian Rasulullah bersabda: "maukah kalian kutunjukkan ciri-ciri penduduk neraka, mereka adalah orang yang senang mencaci maki orang lain, orang yang selalu mengumpulkan harta dan tidak mau mengeluarkannya, dan orang yang menyobongkan dirinya", itu adalah sebagian dari sifat penghuni neraka, dan kita mempunyai sanubari yang belum tentu bersih dari sifat-sifat itu, namun kita mempunyai Sang Pencipta Yang Maha Mampu menghapus kesemua sifat itu dari sanubari kita dan menggatikan dengan kesucian, oleh sebab itu berkata hujjatul islam wabarakatul anam Al Imam Abdullah bin 'Alawy Al Haddad dalam munajatnya :

قَدِ اسْتَـعَنْتُكَ رَبِّيْ عَلَى مُدَاوَاةِ قَلْبِيْ وَحَلِّ عُقْدَةِ كَرْبِيْ فَانْظُرْ إِلَى الغَمِّ يَنْجَال

" Sungguh telah kupasrahakan (meminta pertolongan) kepada Tuhanku untuk mengobati sanubariku, dan lepaskanlah ikatan kesusahanku, lihatlah kegundahanku jauhkan dan hilangkanlah"

Padahal beliau adalah seorang Qutb al irsyad wa ghauts al bilad wal 'ibaad, shahib Ar Rathib namun demikian tawaddu'nya beliau bermunajat, demikianlah cara mereka membenahi dirinya, yaitu dengan berusaha kemudian memasrahkannya kepada Yang Maha Kuat, dan memahami bahwa dirinya adalah hamba yang lemah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa salah satu kelompok yang dinaungi oleh Allah disaat tidak ada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang ketika mengingat Allah mengalirlah air matanya. Orang yang ketika mengingat dan menyebut nama Allah, merasa risau Allah akan menjauhinya, merasa risau Allah akan memutus cintanya, merasa risau Allah akan kecewa kepadanya, merasa risau jika Allah tidak ingin dekat dengannya, risau tidak dicintai Allah, ia selalu berharap diampuni oleh Allah, berharap dicintai Allah, berharap dipermudah oleh Allah, berharap diperindah oleh Allah, berharap dipersuci oleh Allah, diperluhur oleh Allah, dimuliakan oleh Allah, selalu penuh harapan dan kerisauan, harapan untuk selalu dekat dengan Allah dan risau akan jauh dari Allah, harapan untuk dicintai dan diridhai oleh Allah dan risau akan dimurkaiNya, jiwa yang seperti inilah yang merupakan jiwa yang agung di sisi Allah, dimuliakan Allah. Tadi telah disampaikan oleh guru kita Al Ustadz Syahrullah Ramli bahwa Allah tidak memandang terhadap bentuk kita, tetapi memandang sanubari kita. Maka jadikan sanubari kita sebagai berlian Ilahi, yang berpijar dengan cahaya Allah, dan kita tidak akan bisa mencapainya kecuali dengan tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kecuali dengan cinta kepada sayyidina Muhammad. Hadirin hadirat, beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjaga semua panca inderanya selalu dalam kesucian, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika tiga orang sahabat datang bertamu kepada beliau dan memberi salam, beliau tidak menjawab salam mereka, mereka mengulang salam tetapi Rasulullah tetap tidak menjawab, maka mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang banyak berdosa sampai-sampai Rasulullah tidak mau menjawab salam mereka, kemudian mereka mengucapakan salam yang ketiga kalinya maka Rasulullah mengambil tanah lalu bertayammun kemudian menjawab salam mereka, apa maksudnya?, beliau tidak mau menjawab salam, kecuali dalam keadaan suci, barangkali beliau yang tadinya dalam keadaan berwudhu kemudian berhadats atau mungkin bangun dari tidurnya, disaat itu beliau melihat tidak ada air disekitarnya, dan ketika ada orang yang memberi salam beliau tidak mau menjawabnya, maka karena beliau tidak menemukan air beliau bertayammum dulu kemudian menjawab salam mereka. Adakah orang yang lebih indah dan memuliakan tamu seperti nabi Muhammad?!. Betapa kekurangannya dan berbedanya kita dalam memuliakan tamu dibandingkan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan betapa indahnya bibir sang nabi yang tidak mau berucap kepada orang lain kecuali beliau dalam keadaan suci. Barangkali diantara kita ada yang tidak mampu selalu dalam keadaan suci karena kesibukan, maka paling tidak setiap kita berhadats dan masuk ke toilet hendaklah berwudhu', dan jika setelah keluar toilet batal lagi maka ketika nanti akan ke kamar mandi berwudhulah lagi, paling tidak berbuatlah demikian, tetapi jika mampu teruslah selalu dalam keadaan suci. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa suara sandal sayyidina Bilal terdengar di surga, kata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah ditanya apa yang telah diperbuat oleh sayyidina Bilal, maka beliau menjawab "aku mendawamkan wudhu (selalu dalam keadaan berwudhu)". Subhanallah, orangnya belum wafat tetapi sandalnya sudah berada di surga, yang dimaksud bukanlah sandalnya tetapi suara langkah sayyidina Bilal sudah terdengar didalam surga sebelum dia wafat, karena selalu menjaga dalam kesucian.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Yang terakhir yang ingin saya sampaikan, mengenai kabar yang tersebar tentang rencana pemindahan makam Al Arif billah Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi Ar, ayah dari Al Habib Ali Al Habsyi di kwitang, saya menghimbau kepada seluruh muslimin muslimat dan menginstruksikan kepada jamaah Majelis Rasulullah untuk tidak berbuat anarkis dalam hal ini, kita tidak ingin peristiwa berdarah di Priuk terulang, sanubari kita merasa berat jika makam itu dipindahkan namun kita juga tidak mau ada pertumpahan darah, karena shahib al maqam pun tidak akan ridha jika pertumpahan darah atau perpecahan terjadi sebab beliau, oleh sebab itu jangan sampai terjadi kekerasan, setuju ataupun tidak masing-masing mempunyai pendapat, namun jangan sampai terpancing oleh provokator yang akan membuat rusaknya dakwah kita. Oleh karena itu jika terlihat sesuatu yang tidak menyenangkan yang kebetulan disaat kalian ziarah kesana, maka segera laporkan kepada fihak yang berwajib, saya sudah konfirmasi pada Kapolres Jakarta Pusat dan juga sudah konfirmasi dengan Dir Intel di Polda Metrojaya dan juga kepada staff khusus kepresidenan untuk mengatasi masalah ini agar segera reda. Apakah makam itu dipindahkan atau tetap pada tempatnya, namun jangan sampai terjadi insiden berdarah seperti peristiwa Gubah Priok, demikian yang ingin saya sampaikan. Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata'ala semoga Allah menyatukan muslimin, semoga Allah menjaga makam-makam para shalihin, Ya rahman ya rahim ya dzaljalali wal ikram kami memasrahkan keadaan kami kepada-Mu, inilah kami dengan segala kelemahan, inilah kami dengan segala kekurangan, inilah kami dengan segala ketidakmampuan, namun kami memahami ada satu Yang Maha Melihat kami, Maha Memahami segala lintasan pemikiran kami, Dialah Engkau Ya Allah, hanyalah Engkau Yang Maha Tunggal, Maha Mengetahui apa yang telah berlalu dari kehinaan kami, dan Maha Mengetahui apa yang akan terjadi pada kami, wahai nama Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi, nama Yang Maha Sempurna dan Maha Kekal, nama Yang Maha Mengawali segalanya, Yang Tunggal mengawali segala kejadian, Tunggal mengawali segala kehidupan, Tunggal mengawali segala keluhuran, Tunggal membagi-bagikan kebahagiaan dan kenikmatan, sampai kabar kepada saya bahwa malam ini telah hadir lebih dari 40.000, kesemua yang hadir disini dan yang mendengarkan di radio Wadi FM atau radio lainnya, yang menyaksikan acara ini di streaming website Majelis Rasulullah pastikan kesemuanya dalam kebahagiaan dunia dan akhirah, Ya Allah kami tidak meminta berlebihan melainkan doa yang Engkau ajarkan :

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (البقرة :201)

" Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al Baqarah: 201)

Wahai Yang Maha Luhur, wahai Yang Maha bercahaya, wahai Yang Maha Indah, wahai Yang Maha melimpahkan kebahagian, wahai Yang Maha melimpahkan keluhuran, wahai Yang Maha mengangkat dan mempermudah segala kesulitan, wahai Yang Maha menyingkirkan segala kegundahan hati, wahai Yang Maha membuka segala yang tertutup dan sulit untuk dilakukan, wahai Rabbi Yang Maha Mampu berkuasa merubah segala sesuatu, sungguh Engkau pemilik segala sesuatu, wahai Rabbi pemilik segala sesuatu maka jadikanlah segala sesuatu membantu kami untuk mendekat kehadirat-Mu ya Allah ya Rahman ya Rahim, kami memanggil nama-Mu dengan lisan dan jiwa kami, dengan ruh dan perasaan agar Engkau mendekatkan kami kepada keridhaan dan cinta-Mu, jauhkan kami dari kemurkaan-Mu, jauhkan kami dari siksa-Mu, janganlah Engkau siksa satu pun dari kami, tidak di dunia, tidak di sakaratul maut, tidak di alam kubur, tidak pula di api neraka, hal itu tidaklah sulit bagi-Mu walaupun hal itu mustahil bagi kami, namun sungguh tidak mustahil bagi kedermawanan-Mu….

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat, ada satu majalah (saya tidak mau menyebutkan namanya) yang selalu menjelek-jelekkan Majelis Rasulullah maka jangan kalian beli majalah tersebut karena lebih baik diinfakkan kepada fuqara' daripada untuk membeli majalah yang mencaci maki kita. Namun kita tidak rugi dengan cacian itu, jangan sampai kita dimurkai Allah, jika Allah murka kepada kita maka hal itu harus kita risaukan, kalau cuma lembaran kertas kita ikuti salah satu cara Gus Dur saja "yah biar aja", tulis apa yang ingin engkau tulis, kami tetap berjalan bersama sayyidina Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, tulis apa yang ingin engkau tulis "majelis yang merusak", "majelis yang membuat kekacauan lalu lintas", apapun yang kalian ucapkan kami akan terus membenahi diri kami dan Jakarta ini dengan kedamaian, kalian tidak akan bisa mengguncang kami untuk melampiaskan emosi kami, kami akan tetap bersama sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka mengira kita akan marah dan menuntut ke pengadilan!!, bagi kita masalah seperti itu sangatlah sepele. Majalah itu sudah tidak laku dan tidak ada yang membeli maka mencari cara supaya laku jadi mencari masalah dengan majelis-majelis yang besar supaya majalah itu dibeli, maka janganlah dibeli. Dalam masalah ini bukan berarti kita penakut, ingat tadi yang telah saya sampaikan tentang seorang mutadha'if, orang yang mempunyai kekuatan tetapi diam tidak mau memperlihatkannya, Majelis Rasulullah tidak akan terpancing emosi dengan munculnya ucapan dan fitnah di majalah itu, namun kekuatan jiwa kita mereka tidak mengetahuinya, didalam jiwa kita tersimpan kalimat "Allah", Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, rahasia keagungan Allah pendamlah di dalam hatimu maka itu akan menjadi kekuatan besar. Mudah-mudahan mereka diberi hidayah oleh Allah, amin. Kita doakan juga para habaib kita yang dari Ambon semoga dilimpahi kekuatan oleh Allah dalam perjuangan dakwahnya, terima kasih atas kehadirannya kami tidak bisa memberikan sambutan yang hangat dan baik, namun kehadiran mereka sungguh sangat membuat kita gembira dan bangga karena mereka mau menginjakkan kaki ke majelis kita, dan semoga ada waktunya kita juga berkunjung kesana untuk menyambung silaturrahmi, dan insyaallah ini adalah yang pertama dan akan berkelanjutan di masa mendatang. Selanjutnya qasidah doa untuk muslimin muslimat agar dijauhkan dari musibah dan segala masalah, kemudian doa penutup oleh Al Habib Abdurrahman Al Habsyi, falyatafaddhal.

sumber: majelisrasulullah.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar